Kecamuk Mimpi: Antara Jurang, Makhluk Mengerikan, dan Pertarungan Hidup-Mati

Mimpi Kai
Penulis:Afghan Nuzul
Genre:Horor Psikologis
Tema Utama:Ketidakberdayaan
Tahun Terbit:2025

Jam Pasir Berdaging: Bagian I


Kai terbangun dengan sisa napas yang tersengal. Mimpi itu masih membekas jelas di benaknya—sebuah pengalaman yang dimulai dengan keganjilan dan berakhir dengan kengerian murni. Namun, batas antara alam bawah sadar dan kenyataan mendadak menjadi kabur.

Semuanya bermula di bawah langit yang suram. Kai berada di dalam mobil bersama seorang kawan bernama Klaus, mengemudi menuju bibir jurang yang terjal. Alih-alih jatuh terperosok, mobil itu secara mustahil menyesuaikan diri; ban-bannya merayap di dinding tebing dengan presisi yang gila. Namun, ketenangan itu hanyalah pengantar bagi badai.

Suasana berubah seketika. Ruang dan waktu seolah terlipat, menyeret Kai ke sebuah jalan panjang di tepi laut. Di sana, sebuah aungan raksasa menggetarkan udara—suara purba yang memicu insting bertahan hidup paling primitif. Tanpa menoleh, Kai berlari ke mobilnya, meninggalkan teman-temannya yang terpaku dalam ketakutan di belakang.

Sesampainya di apartemen, ketakutan itu kian nyata. Istrinya, Lena yang berusia tiga puluh tiga tahun, dan putri kecil mereka, Greta, mendekapnya dengan tubuh gemetar. Dari jendela, mereka menyaksikan pemandangan neraka: manusia dibantai oleh sosok-sosok raksasa di kejauhan. Kai berbisik parau kepada para tetangga, memerintahkan mereka untuk tetap tenang dan jangan pernah sekali pun melakukan kontak mata dengan makhluk-makhluk itu.

Namun, perlindungan dinding apartemen terbukti sia-sia. Dari dalam tanah, lima sosok muncul secara misterius—dua anak perempuan berwajah manis dan tiga prajurit dengan tatapan sedingin es. Wujud mereka adalah kengerian yang nyata: kulit abu-abu pucat serupa lilin yang membeku, pakaian yang melekat seperti kulit kedua yang dijahit ke daging, dan mata tanpa pupil—hanya bola kaca putih yang memantulkan bayangan Kai yang hancur. Mereka bergerak tanpa suara langkah, hanya gesekan pelan serupa kulit yang dikelupas dari sendi-sendi yang berputar ke arah yang salah.

Mereka menggiring keluarga Kai keluar, memaksa semua orang untuk mengikuti sebuah "permainan" yang mematikan. Ketika Kai menolak keras, salah satu prajurit melepaskan tembakan tepat ke kepalanya. Darah segar membasahi lantai, namun Kai tidak mati. Rasa lega yang ganjil menyelimuti Kai, sampai sebuah panggilan memutus harapannya: Greta, putrinya yang masih berusia dua tahun, dipanggil untuk memulai permainan.

Di titik itulah Kai sadar, ini bukan sekadar mimpi; ini adalah manifestasi dari ketakutan terdalamnya yang paling brutal.

Lubang di dahi Kai adalah sebuah anomali. Peluru itu telah menembus tengkoraknya, namun alih-alih kegelapan abadi, ia justru dipaksa untuk tetap terjaga. Luka itu tidak menutup; ia menganga seperti mulut kecil yang haus, memperlihatkan denyut merah di dalamnya yang berdetak seirama dengan jantungnya.

Setiap detik Kai tenggelam dalam keragu-raguannya, cairan kental berwarna merah tua merembes deras dari lubang itu. Darah itu tidak jatuh ke lantai, melainkan menguap menjadi kabut tipis yang merayap menuju Lena. Visual kengerian itu berpindah: Kai tidak merasakan sakit, namun ia harus menyaksikan Lena tersungkur, menjerit tanpa suara, mencengkeram dahinya seolah-olah ada peluru tak kasat mata yang sedang berputar di bawah kulitnya.

Setiap tetes darah dari kepala Kai adalah satu sayatan baru pada saraf Lena. Kai berdiri tegak, utuh, namun kosong. Ia adalah wadah penderitaan yang bocor; ia adalah luka, dan istrinya adalah rasa sakitnya. Para prajurit itu hanya berdiri mengamati. Bagi mereka, Kai hanyalah sebuah instrumen—jam pasir berdaging di mana darahnya menentukan berapa lama lagi Lena bisa bertahan sebelum pikirannya hancur total.

"Pilihan pertama, Kai," suara itu bergaung di dalam tengkoraknya, tepat dari lubang bekas peluru itu.

Di hadapan Kai, sebuah proyeksi cahaya muncul. Itu adalah memori tentang ulang tahun pertama Greta—tawa Kai saat menggendong putrinya yang berlumuran krim kue.

"Serahkan hari ini," bisik suara itu. "Berikan tawa itu kepada kami, dan luka di dahi Lena akan menutup. Dia akan bernapas kembali."

Kai melihat ke arah Lena yang mulai membiru, tubuhnya melengkung kaku di lantai. Jika ia menyerahkan memori itu, bagian dari jiwanya sebagai ayah akan terhapus. Ia akan melihat Greta, namun tidak akan ingat mengapa ia pernah mencintainya begitu dalam.

"Tiga... dua..." prajurit itu mulai menghitung.

Tangan kurus panjang milik prajurit itu mulai menyentuh dahi Greta, meninggalkan jejak embun beku yang menghitam di kulit lembut sang putri. Kai berteriak, namun suaranya tertahan oleh darah yang memenuhi tenggorokannya. Ia harus memilih: Menjadi orang asing bagi anaknya sendiri, atau membiarkan istrinya mati dalam penderitaan yang ia ciptakan.

***Bersambung***
Blogger (0)
Facebook
Disqus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar